keunikan sebuah negara

0

“…Uniknya Turki…”

Keunikan di Konstatinopel (Turki)

  Salah satu keunikan Turki adalah letaknya yang berada di dua benua, Asia dan Eropa. Di negara ini, siapa pun dapat bepergian melewati dua benua dalam 10 menit dengan melewati Jembatan Selat Bosphorus, Istanbul.
Istanbul yang menjadi salah satu kota terkenal di Turki dikenal pula dengan nama Konstatinopel atau Byzantium. Kota ini memiliki sejarah yang amat kaya dan unik karena pernah menjadi pusat pemerintahan tiga kekaisaran, yaitu Romawi, Byzantium, dan Kekaisaran Ottoman.
Obyek wisata yang menarik di Instanbul adalah Hagia Sophia, bangunan berumur 1.500 tahun yang selama berdiri pernah menjadi gereja, mesjid, dan terakhir sejak menjadi museum tahun 1935 praktik keagamaan, baik Nasrani maupun Muslim dilarang di dalam kompleks Hagia Sophia.

Iklan

ibadah haji

0

…Ibadah Haji…

Menag Akan Upayakan Jemaah Haji Wafat, Putra-Putrinya Dapat Bea Siswa

IbadahHaji.com – Menteri Agama Suryadharma Ali akan mengupayakan memberikan bea siswa kepada putra/putri yang orangtuanya wafat tatkala melaksanakan ibadah haji dan program ini diharapkan mendapat dukungan dari Bank Penerima Setoran (BPS) haji.

Jumlah jemaah haji yang wafat di tanah suci saat menunaikan ibadah haji setiap tahunnya berkisar 400 orang dan sangat wajar jika BPS ikut meringankan anggota keluarga, dengan cara memberikan bea siswa, kata Menteri Agama Suryadharma Ali seusai lauching Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (SPMB-PTAIN) di Jakarta, Jumat.

Jemaah haji wafat di tanah suci bisa berbagai sebab. Karena sakit, kecelakaan dan sebagainya. Yang jelas, yang wafat ketika melaksanakan ibadah haji pada tahun 2012 lalu saja sekitar 400 orang.

Bagi kalangan perbankan sebagai BPS, untuk memberikan bea siswa kepada anggota keluarga jemaah haji yang wafat tentu sangat membantu. Cara itu sangat mulia. Jumlahnya pun tak terlalu besar jika dilihat dari jumlah jemaah haji Indonesia setiap tahunnya mencapai 211 ribu orang. Baca lebih lanjut

yahudi perlu di musuhi

0

Tiga Alasan Yahudi Perlu Dimusuhi

Pertama, Allah menegaskan bahwa bersama kaum Musyrikin bangsa Yahudi merupakan kaum yang paling hebat permusuhannya terhadap orang-orang beriman.

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

”Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS Al-Maidah ayat 82)

Pantaslah bilamana dalam perang di Gaza kemarin rejim Yahudi Zionis Israel memang sengaja menjadikan anak-anak Muslim Palestina sebagai target sasaran militer mereka. Karena menurut mereka anak-anak Palestina di Gaza akan tumbuh menjadi para ‘teroris’.

Kedua, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan bangsa Yahudi sebagai kaum yang paling hebat sifat hasad-nya kepada Ummat Islam. Hasad dalam bahasa Arab bukan berarti sekedar dengki atau iri. Hasad dalam bahasa Arab mengandung setidaknya tiga pengertian:

(1) Iri melihat orang lain memperoleh suatu kenikmatan

(2) Berusaha keras dengan berbagai cara agar kenikmatan tersebut lepas dari orang tadi

(3) Setelah lepas ia akan mengupayakan sekuat tenaga agar kenikmatan tersebut berpindah ke tangannya

Inilah tiga pengertian yang dikandung oleh kata hasad dalam bahasa Arab. Dan menurut Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kaum Yahudi merupakan kaum yang paling sarat sifat hasad.

إن اليهود قوم حسد ، وإنهم لا يحسدونا على شيء

كما يحسدونا على السلام ، وعلى آمين

“Sesungguhnya bangsa Yahudi merupakan kaum yang penuh sifat hasad. Dan sesungguhnya mereka tidak hasad terhadap sesuatu sebagaimana hasadnya terhadap kita (kaum Muslimin) dalam perkara (ucapan) ”Assalamu’alaikum” dan ”Amin”. (HR Shohih Ibnu Khuzaimah 1500)

Melalui hadits di atas Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa di antara sebab utama kaum Yahudi hasad kepada Ummat Islam karena kebiasaan kita mengucapkan doa ”Assalamu’alaikum” satu sama lain tatkala berjumpa. Ucapan ini mencerminkan cinta dan persaudaraan yang tumbuh subur di kalangan sesama orang beriman. Dan hal ini tidak disukai oleh kaum Yahudi. Oleh karenanya mereka sangat terkenal dengan politik ”belah bambu” atau devide et empera ketika menghadapi ummat Islam. Mereka sangat benci melihat Ummat Islam saling berkasih-sayang dan menjaga persatuan. Itulah sebabnya mereka memberikan gula-gula kepada Mahmud Abbas dengan kelompok Fatah-nya dan memberikan agresi militer kepada kelompok Hamas. Sebagian bangsa Muslim Palestina mereka jadikan kolaborator sedangkan sebagian lainnya mereka hancurkan dan tuduh sebagai kelompok teroris…!!

Hal lain yang menyebabkan mereka hasad kepada kita ialah ucapan ”Amin”. Ucapan ini biasa diperdengarkan ummat Islam saat mereka sholat berjamaah di masjid terutama sholat-sholat Subuh, Isya dan Magrib saat Imam men-jaharkan bacaan sholatnya. Oleh karenanya Yahudi sangat benci terhadap kebiasaan ummat Islam –terutama kaum prianya- menegakkan sholat berjamaah di masjid. Mereka akan berupaya sekuat tenaga menjauhkan ummat Islam dari melakukan hal ini. Dan itulah sebabnya mengapa sebagian kebrutalan pasukan Yahudi Zionis Israel kemarin di Gaza adalah menghancurkan setidaknya 22 bangunan masjid di mana sebagian di antaranya dirudal pada saat sholat berjamaah sedang berlangsung…!!!

Baca lebih lanjut

yahudi pengkhianat

0

pengkhianatan Yahudi

Menyimak keberingasan, kebengisan, dan kepongahan Israel di Lebanon dan Palestina saat ini, ada baiknya kita mengkaji kembali pemahaman kita tentang bangsa Yahudi, sebagaimana digambarkan dalam al-Quran dan buku-buku sejarah. Ayat-ayat yang menggambarkan karakter dan bangsa Yahudi begitu banyak bertebaran. Di dalam sejarah kita memahami, bahwa kaum Yahudi adalah kelompok manusia yang begitu banyak dan hobi melakukan pengkhianatan terhadap kebenaran yang disampaikan kepada mereka.

Di Madinah (Yathrib), kaum Yahudi telah mengabarkan kepada penduduk setempat akan kedatangan seorang Nabi terakhir. Dan ini telah diberitakan oleh Nabiyullah Isa a.s. kepada mereka, jauh-jauh sebelumnya. Tetapi, ketika Rasul itu (Nabi Muhammad saw) benar-benar tiba, maka justru mereka menjadi orang pertama yang mengingkarinya.

“Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS as-Shaf:6).

Itulah karakter Yahudi. Sebuah karakter yang dengan begitu mudah menolak kebenaran, meskipun mereka tahu tentang kebenaran. Karena itu, Rasulullah saw menjelaskan, bahwa makna kata ‘al-maghdhub’ (yang dimurkai Allah SWT)  dalam surat al-Fatihah adalah ‘al-Yahud’. Jadi kaum Yahudi adalah prototipe orang yang tahu tentang kebenaran tetapi tidak mau mengikuti kebenaran, bahkan sebaliknya, merekalah yang menyembunyikan dan mengubah-ubah kebenaran.

Al-Quran menjelaskan bagaimana kaum Yahudi hobi mengubah-ubah kitab suci mereka, sehingga tidak diketahui lagi mana wahyu yang asli dan mana yang merupakan tambahan mereka. “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh Keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS al-Baqarah:79).
Akibat pengkhianatan mereka terhadap kebenaran ini, maka mereka juga menyesatkan kaum lainnya yang mengikuti mereka.  Hingga kini diakui oleh para pengkaji agama Yahudi, bahwa masalah besar dalam mengkaji Kitab Yahudi (Bibel Yahudi – yang oleh orang Kristen disebut sebagai ‘Perjanjian Lama’) adalah masalah otentisitas teks-teks Bibel tersebut. Yakni membedakan, mana yang asli dan mana yang sisipan. Th.C. Vriezen, dalam bukunya, Agama Israel Kuno (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 2001), menulis:

“Ada beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan sejarah Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa proses sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi (diolah kembali oleh penyadur). Proses penyaduran turun-temurun itu ada untung ruginya. Salah satu keuntungannya ialah bahwa sumber-sumber kuno itu dipertahankan dan tidak hilang atau terlupakan. Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang merupakan sisipan.”

Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, (New York: Perennial Library, 1989), juga menulis: “It is a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization.” Jadi, menurut Friedman, adalah hal yang ajaib bahwa kaum Yahudi-Kristen sebenarnya tidak pernah tahu dengan pasti, siapa yang menulis kitab mereka. Padahal, kitab itu sudah begitu memainkan peran sentral dalam peradaban mereka. Bahkan, Kitab Torah (Five Book of Moses, yakni Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan) dikatakan Friedman sebagai salah satu teka-teki paling kuno di dunia (It is one of the oldest puzzles in the world).

Gara-gara ulah Yahudi yang mengubah-ubah kitab mereka itu, maka kebenaran menjadi kabur, karena dicampur aduk dengan kebatilan. Dalam surat al-Baqarah:41-42 sudah disebutkan peringatan Allah agar kaum Yahudi jangan menjadi orang yang pertama kafir dan jangan mencampuradukkan antara yang haq dan bathil dan menyembunyikan kebenaran.

“Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.”

Tentu saja kaum Yahudi sangat tertohok dengan ayat-ayat al-Quran yang menelanjangi habis-habisan kecurangan mereka. Karena itu bisa dipahami jika mereka tidak pernah ridho kepada kaum Muslim, sampai kaum Muslim mengikuti millah mereka (QS al-Baqarah 2:120). Mereka kemudian menyimpan dendam yang terus terpendam dan berusaha keras untuk merusak Islam. Jika kita cermati, saat ini, betapa banyak orang diantara kaum Muslim yang – sadar atau tidak – mengikuti jejak kaum Yahudi dalam mengubah-ubah dan menyembunyikan kebenaran. Kita tidak habis pikir, bagaimana ada orang yang mengaku Islam tetapi mendukung upaya penyerangan terhadap al-Quran, melecehkan Nabi Muhammad dan para sahabat Nabi.

Ada juga yang secara terang-terangan dengan berbagai dalil yang dibuat-buat menghalalkan perkawinan homoseksual dan perkawinan muslimah dengan laki-laki non-Muslim. Ada yang membuat-buat tafsir al-Quran ala Yahudi dengan membuang makna teks dan menekankan aspek konteks secara serampangan. Itulah yang dilakukan misalnya oleh Prof. Musdah Mulia dan para penulis buku Fiqih Lintas Agama yang membuang makna teks dan menggunakan aspek konteks secara amburadul, sehingga keluar keputusan hukum bahwa muslimah boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim. (Lihat buku Muslimah Reformis karya Musdah Mulia terbitan Mizan dan buku Fiqih Lintas Agama terbitan Paramadina dan The Asia Foundation).

Padahal, cara penafsiran seperti itu benar-benar mengikuti metodologi penafsiran Bibel Yahudi. Dalam bab berjudul ‘Hebrew Scriptures’ dari buku Path Through Catholicism karya Mark Link SJ (Texas:Tabor Publishing, 1991), dijelaskan metode penafsiran Bibel Yahudi yang memisahkan antara metode tekstual dan metode kontekstual. Orang yang menafsirkan secara tekstual/literal dijuluki sebagai kaum literalis atau fundamentalis. Paus sendiri menolak penafsiran Bibel secara tekstualis atau literalis. Menurut buku karya Mark Link itu, penafsir Bibel dibagi menjadi dua model, yakni model literalis dan kontekstualis.

Dia menulis: “Literalists interpret the Bible rigidly, saying, “It means exactly what it says”. In other words, literalists (also called fundamentalists) concern themselves with only the text of the Bible. Contextualists interpret the Bible more broadly, saying “We must consider not only the text but also the context of the Bible. In other words, we must also consider such a things as historical and cultural situation in which the Bible was written.” (hal. 22)
Model tafsir Bibel Kristen-Yahudi seperti ini, yang menajamkan aspek tekstual dan kontekstual dan menekankan aspek historisitas teks, saat ini banyak mencengkeram sebagian akademisi Muslim. Itu bisa kita lihat dalam buku-buku tentang studi Islam yang bermunculan dewasa ini.

Seorang dosen UIN Yogya yang menerbitkan disertasinya dengan judul  “Muslim-Christian Relations in The New Order Indonesia:The Exclusivist and Inclusivist Muslims’ Perspectives, (Bandung: Mizan, 2005)” membagi kaum Muslim Indonesia ke dalam dua golongan, yakni kaum ‘Inclusivist Muslims’ dan exclusivist Muslim’. Kaum Muslim Inklusif, kata dia, adalah mereka yang mempersepsikan Islam sebagai agama evolutif dan menerapkan metode tafsir kontekstual terhadap al-Quran dan Sunnah. (… they perceive Islam as an evolving religion they apply a contextual reading to the Quran and sunna). Sedangkan Muslim eksklusif adalah yang menerapkan metode penafsiran al-Quran dan Sunnah secara literal. (They apply a literal approach in understanding the foundation texts of Islam, namely the Quran and the sunna of the Prophet).

Cara pandang disertasi di Melbourne University seperti itu adalah pola dan metode panafsiran Bibel Kristen-Yahudi, yang dipaksakan kepada al-Quran. Si dosen itu harusnya mengkaji dengan serius, bahwa ada perbedaan yang mendasar antara sifat teks al-Quran dan teks Bibel. Dalam konsep Islam, teks al-Quran adalah ‘tanzil’ yang lafaz dan maknanya dari Allah. Teks al-Quran bukan bikinan Nabi Muhammad saw atau bikinan manusia mana pun. Karena itu, al-Quran adalah wahyu, Kalamullah. Ini beda dengan Bibel, yang dalam konsep Kristen sendiri dikatakan sebagai ‘teks manusiawi’, yakni teks yang ditulis oleh para penulis Bibel yang mendapatkan inspirasi dari Roh Kudus.

Baca lebih lanjut

0

Ulah Yahudi Gendeng, Pesawat AS Mendarat Darurat

 

Alarm pesawat Amerika yang sedang mengudara terpaksa berbunyi keras yang biasanya sebagai peringatan akan adanya bahaya bom atau sejenisnya di dalam pesawat, ternyata hal itu disebabkan karena ulah seorang penumpang Yahudi fanatik yang berdoa di dalam pesawat dengan keras dan menimbulkan kekhawatiran ketika Yahudi tersebut meletakkan sebuah kotak yang berisi tulisan-tulisan dari kitab suci Yahudi di dahinya.

Menyusul adanya peringatan awal, pesawat terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional Amerika Serikat Philadelphia di tengah kepungan pasukan keamanan yang bersenjata lengkap.

Seorang juru bicara Polisi Federal Amerika mengatakan: “Pesawat melakukan pendaratan darurat karena alasan-alasan keamanan di bandara di Philadelphia, Pennsylvania, karena tingkah laku yang tampak mencurigakan dari seorang penumpang yang akhirnya kemudian ditangkap dan diinterogasi untuk beberapa waktu.”

Dunant Morgan seorang juru bicara untuk maskapai penerbangan AS menyatakan bahwa mereka telah mengecek isi pesawat namun tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sana.

Greg Sule, juru bicara Air Transport dalam sebuah pernyataan mengatakan: “Departemen menerima pemberitahuan tentang adanya penumpang pesawat yang berperilaku mencurigakan pada Pesawat 3.079 – Cotokoa Airlines Penerbangan dari La Guardia Airport di New York menuju Louisville.”

Sumber keamanan di bandara yang meminta anonimitas menyatakan kepada AFP: “Orang Yahudi itu berdoa dengan suara keras dan menaruhnya di atas kepalanya dengan sebuah kotak.”

“Saya membayangkan bahwa perilaku dan tingkah laku yang mencurigan dari seorang penumpang pesawat, digunakan oleh para awak pesawat untuk melakukan pendaratan darurat di bandara Philadelphia.”

Sumber menambahkan: “Ada masalah dalam memahami yahudi itu, karena bahasa yang ia gunakan, dan yahudi itu kemudian mulai berdoa keras-keras dan menggunakan tulisan-tulisan suci.”

Biasanya umat Yahudi akan meletakkan kotak persegi kecil yang berisi tulisan-tulisan Taurat di tangan mereka dan menempelkan di kepala mereka dalam ritual yang mereka sebut sebagai “doa pagi”.

Sebelumnya, jurubicara Polisi Federal mengatakan: “Ada pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Philadelphia, dan semua unit kita dikerahkan ke daerah itu, dan berhasil ditangkap seorang pria yang melakukan tindakan yang mencurigakan.

pemabakaran Al-qur’an

0

Lagi-lagi, Pendeta Amerika Bakar Alquran!

Terry Jones (Reuters)

Florida, – Pendeta kontroversial Amerika Serikat (AS), Terry Jones, kembali berulah. Dia kembali melakukan aksi pembakaran Alquran di luar gerejanya di Florida, AS. Aksinya itu disebutnya untuk memprotes penahanan seorang pemuka agama Kristen di Iran.

Sekitar 20 orang berkumpul dalam seremoni tersebut yang digelar di luar gereja Dove World Outreach Center di Gainesville, Florida pada Sabtu, 28 April malam waktu setempat. Saat itu, Jones memimpin aksi pembakaran sejumlah salinan Alquran dan sebuah gambar yang disebut menggambarkan Nabi Muhammad.

Demikian seperti diberitakan media lokal, The Gainesville Sun dan dilansir kantor berita AFP, Senin (30/4/2012). Video pembakaran tersebut bahkan di-upload ke situs berbagi YouTube oleh kelompok pendukung Jones, “Stand Up America Now.”

Dalam aksi itu, Jones mendesak pembebasan Youcef Nadarkhani, pendeta Iran yang saat ini dipenjara atas kemurtadan karena berganti agama dari Islam menjadi Kristen.

Jones pernah menjadi bahan pemberitaan global dengan aksinya merekam pembakaran Alquran pada Maret 2011 lalu. Aksi Jones itu menimbulkan kemarahan dunia muslim, khususnya di Afghanistan yang menyebabkan tewasnya 12 orang.
(ita/vta)

0

 

 

Doha city, Qatar

ATJEHCYBER | DOHA — Semenjak ekonomi Eropa dan AS tersendat, negara-negara di luar itu mulai memainkan peranan penting bagi perekonomian dunia. Sebut saja Cina, Brasil dan Rusia. Lantas bagaimana dengan dunia Islam saat ini.

Beruntung bagi yang memiliki dan mampu mengelola sumber daya minyak dan industri pariwisata dengan baik. Sebab, kedua sektor itu merupakan andalan utama yang membawa negara-negara Islam memiliki pendapatan perkapita mendekati negara maju, bahkan sudah ada yang melewati negara maju meski sebatas catatan pendapatan perkapita.

Seperti dikutip World Bank 2011, berikut 15 negara Islam terkaya :

1. Qatar, pendapatan perkapita $ 88,919 (2011)
2. Kuwait, pendapatan perlapita $ 54,654 (2011)
3. Brunei, pendapatan perkapita: $ 50,506 (2010)
4. United Arab Emirates, pendapatan perkapita $ 48,222 (2011)
5. Oman, pendapatan perkapita $ 28.880 (2011)
6. Arab Saudi, pendapatan perkapita $ 24.434 (2011).
7. Bahrain, pendapatan perkapita $ 23.690 (2011).
8. Turki, pendapatan perkapita $ 16.885 (2011).
9. Libya, pendapatan perkapira $ 16,855 (2009)
10. Malaysia, pendapatan perkapita $ 15,589 (2011)
11. Lebanon, pendapatan perkapita $ 14,709 (2011)
12. Kazakhstan, pendapatan perkapita $ 13,189 (2011)
13. Iran, pendapatan perkapita $ 11,479 (2009)
14. Azerbaijan, pendapatan perkapita $ 10,136 (2011)
15. Tunisia, pendapatan perkapita $ 9,415 (2011)